MUHAMMADIYAH SEBAGAI PENENANG ALAM YANG MENANGIS

Sabtu, 23 November 2019 20:10 WIB

Apakah kita pernah merenungi kembali tentang keberadaan kita saat ini? Kita sebagai manusia hidup di atas bumi mulai lahir, kecil, beranjak dewasa, sampai kita meninggal. Ketika kita merenungi betapa besarnya kehidupan yang didapatkan dari bumi, maka kita akan selalu merasa bahwa betapa besarnya hutang manusia terhadap bumi. Namun hal itu nampaknya tidak menjadi bahan renungan bagi kita, tetapi justru manusia hanya menganggap alam sebagai sebuah objek yang siap pakai, hal ini di dasari oleh anggapan bahwa alam beserta isinya diciptakan untuk manusia dan manusia sebagai pusat penciptaan hampir di dukung oleh berbagai agana di dunia dengan variannya. Misalnya antroposentrisme, paham yang menganggap manusia sebagai pusat dan puncak segala ciptaan, paham inilah di pakai sebagai legitimasi teologis atas pelimpahan wewenang dari Tuhan kepada manusia untuk menundukkan dan mengeksploitasi alam secara semena-mena demi memenuhi kebutuhannya. Namun harus juga memahami toesentrisme yakni paham yang lebih menekankan tentang keberpusatan pada Tuhan, sehingga perintah-perintah Tuhan dapan diaplikasikan oleh manusia pada ekosentrisme yakni cara pandang bahwa pemakaian etika diperluas untuk mencakup komunitas ekosistem secara keseluruhan, jadi adanya manusia yang diberi pengetahuan untuk mempelajari agama dapat menjaga ekosistem alam yang ada.
 
Praktik Eksploitasi Pertama
 
            Bemula ketika Tuhan mengumumkan rencanaNya. Hendak menciptakan seorang khalifah, lalu Malaikat sedikit heran dan meluncurkan pertanyaan. Malaikat yang tidak pernah membantah, selalu memuji dan tunduk dengan segala perintah. Tuhan tidak hendak berdebat. Tuhan tidakn ingin meminta pertimbangan. KehendakNya tidak bisa dibantah. Bukan sekedar menutup keraguan malaikat tapi juga petunjuk keunggulan manusia, “Dia mengajar Adam nama-nama seluruhnya, kemudian memaparkannya kepada para Malaikat, lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu “orang-orang” yang benar! Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui (lagi) Maha Bijaksana (QS Al Baqarah:31-32).
            Tuhan mau memaparkan bukti yang mana Malaikat tahu akan keterbatasannya. Malaikat kini mengerti tiap ciptaan punya keunggulan termasuk seorang manusia. Dengan penuh kehormatan dan ketundukan Malaikat kini berserah diri dan tidak ada sikap yang patut kecuali memuji. Manusia memang punya kelebihan. Lagi-lagi Tuhan hendak membawa bukti yang lebih kuat mengenai kelebihan manusia. “Dia berfirman, “Hai Adam, beritakanlah kepada mereka nama-nama benda-benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-Katakan kepada kamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? (QS Al Baqarah:33.)
            Al Ghazali mengatakan hubungan erat antara manusia dengan Tuhan diilustrasikan dengan kalimat, “makhluk manusia mempunyai wajahnya sendiri dan wajah Tuhannya, dalam kaitan dengan wajahnya sendiri ia adalah keabadian dan dalam kaitan dengan wajah Tuhannya ia adalah wujud”. Hubungan hakiki inilah yang membuat manusia mendapatkan tempat terhormat. Dalam dari manusia terpatri karakter konseptual yang membawa pada penguasaan pengetahuan sekaligus jaminan kebebasan. “Dan Hai Adam! Bertempat tinggalah engkau dan istrimu di surga, maka makanlah olehmu berdua di mana saja yang kamu berdua kehendaki, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, yang dapat menjadikan kamu kedua termasuk orang-orang zalim (QS Al-Araf: 19). Disinilah ada indikasi pemahaman tentang antroposentrisme yang mana akan menjadi cikal bakal eksploitasi pertama kali yang dilakukan oleh manusia.
Dengan latar taman firdaus yang lengkap, dituntun langsung oleh Tuhan dan cinta yang merebak antara keduanya, kehidupan seperti sudah menemukan bahtera. Adam bersama istrinya saling mencintai, memiliki dan tinggal dalam kerajaan Tuhan. Kenikmatan yang dipunyai keduanya hanya dibatasi satu larangan: jangan dekati pohon. Tafsir menyebut banyak makna, tapi sebuah isyarat bahwa tidak ada kebebasan mutlak. Tuhan mengajarkan bagaimana sebuah kebebasan mesti diikuti oleh pembatasan. Demokrasi yang diajarkan bukan terletak pada kekuatan suara, tapi batasan untuk tidak terjatuh pada “kezaliman”. “Maka setan membisikan kepada keduannya untuk menampakkan keduanya apa yang tertutup dari saat mereka berdua dan ia berkata: “Tuhan kamu berdua tidak melarang kamu berdua dari mendekati pohon ini, melainkan karena (Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau tidak menjadi dua orang dalam kelompok mereka yang kekal. Dan ia bersumpah kepada keduannya: “sesungguhnya saya termasuk pemberi nasehat kepada kamu berdua (QS Al-Araf: 20-21).
Setan dengan alibinya untuk menjerumuskan manusia (Adam dan Hawa) seperti yang tertera di dalam surah diatas menunjukan bahwa setan mempengaruhi manusia agar mecampur adukan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika keinginan sudah muncul pada diri manusia maka tidak akan ada rasa puas meskipun kebutuhannya sudah tercukupi yang mana hal ini bisa dikatakan bahwa larang untuk mendekati pohon itu di maksdukan dengan tidak memaksakan keinginan, ketika dipaksakan maka akan berdampak bagi diri sendiri maupun sekitarnya,  bisa dicontohkan Adam dan Hawa ini sudah mengekploitasi pohon yang sudah dilarang tersebut sehingga mereka mendapatkan dampaknya. “Maka ia menurunkan keduanya dengan tipu daya. Maka tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, nampaklah bagi keduanya auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Dan Tuhan menyeru mereka berdua: Bukankaj Aku telah melarang kamu berdua melampaui pohon itu dan Aku katakan kepada kamu berdua “Sesungguhnya Setan itu bagi kamu berdua adalah musuh yang nyata? (QS Al-Araf: 22). Di dalam ayat ini ada kata melampaui yang mana mereka memaksakan keinginan atau kehendak sehingga kejadian ini bisa dikatakan praktik pertama kali eksploitasi yang dilakukan manusia karena mengikuti keinginan.
 
Eksploitasi besar-besaran yang pertama kali di Bumi
 
            Terkait kisah yang terjadi antara Nuh dan kaumnya berdasarkan penjelasan Al-Qur’an, Sunnah dan Atsar, waktu antara Adam dan Nuh terpaut sepuluh generasi. Dari riwayat Imam Bukhari dari Hadist Ibnu Juraji, dari Atha’, dari Ibnu Abbas saat menafsirkan firman Allah SWT. “Dan mereka berkata, jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr” (QS Nuh: 23). Ibnu Abbas mengatakan, ini adalah nama orang-orang saleh di antara kaum Nuh. Setelah mereka meninggal dunia, setan membisikan pikiran jahatnya kepada kaum mereka untuk membuat sejumlah patung yang diberi nama-nama mereka di majlis-majlis yang dulunya biasa mereka hadiri. Mereka mewujudkan bisikan jahat setan itu, hanya saja patung-patung tersebut belum disembah. Setelah mereka meninggal dunia dan ilmu agama lenyap kemudian patung-patung tersebut disembah.
            Setiap Nabi yang diutus Allah SWT pastinya akan mengajarkan ajaran tauhid dengan cara Nabi yang datang pada suatu kamu mampu menandingi kemampuan kaum tersebut, contohnya Nabi Isa, pada zaman Nabi Isa perkembangan dunia medis sangat pesat sekali, oleh karena itu salah satu mukjizat Nabi Isa adalah menyembuhkan orang sakit, contoh lain ketika di utusnya Nabi Muhammad, di daerah Arab terkenal sekali dengan sastranya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad diutus dengan membawa wahyu Al Qur’an yang mana tidak ada satu pun sastra yang dapat menandingi Al Qur’an meskipun semua makhluk berkumpul jadi satu dengan semua pohon yang ada di dunia dijadikan kertas dan lautan sebagai tinta itupun belum dapat menandingi Al Qur’an, Karena Sudah Dijamin Oleh Allah SWT. Kembali lagi kepada zaman Nabi Nuh yang mana ketika membicarakan Nabi Nuh tidak lepas dari bahtera yang sangat besar dan banjir bandang. Kenapa Nabi Nuh disuruh untuk membuat bahtera dari kayu yang sangat besar? Pertanyaan seperti ini pasti dapat di jawab oleh anak-anak SD, namun  disini tidak akan membahas seperti jawaban anak SD tetapi akan membahas dari pandangan ekologi.
Pernyataan diatas bisa ditarik garis merah antar keterhubungan kemunculan Nabi dengan hal yang populer pada zamannya, ketika Nabi Nuh Diutus Oleh Allah SWT untuk membuat bahtera dari kayu yang sangat besar, kemungkianan terjadi adalah kamu Nabi Nuh pada zaman itu rata-rata adalah pengrajin kayu contohnya seperti membuat patung, rumah dan perabotan lainnya, namun kaum Nabi Nuh ini mengeksploitasi hutan pada saat itu sehingga ekologinya pun terganggu.
Nabi Nuh adalah seorang visioner yang mampu melihat realitas saat itu dan dioriantasikan jangka panjang, sehingga Nabi Nuh membuat Bahtera yang sangat besar karena Nabi Nuh mengetahui dampak yang akan datang (banjir bandang) setelah melihat para kaumnya berbondong-bondong mengeksploitasi hutan, karena dari segi ilmu pengetahuan penyebab banjir adalah penggundulan hutan, mungki disini ada pertanyaan kenapa Nabi Nuh tidak melakukan reboisasi? Pada kenyataannya Nuh sudah melakukan suatu dakwah kepada kaumnya agar melakukan perbuatan yang lebih baik lagi tapi hal ini dienyahkan oleh kaumnya yang tertuang dalam Al Qur’an yang berbunyi. “Dia berkata: Tuhanku! Aku sudah mengajak kaumku siang dan malam. Tetapi ajakanku hanya membuat mereka tambah jauh (dari kebenaran). “Dan setiap waktu aku mengajak mereka supaya Engkau memberi ampunan, mereka mencocokan jari-jari di telinga, dan menutup badan dengan pakain mereka, mereka tetap bersikukuh dan sangat menyombongkan diri (QS Nuh: 5-7).
Ketika kekesalan itu memuncak maka alam kemudian mencipta keteraturan yang membawa warta hukuman. Warta itu bentuknya sederhana yakni hujan yang tanpa henti dan disusul badai hal ini akan membawa musibah dan bencana dikarenakan oleh sikap keserakahan kaum Nuh sendiri. Nuh menyiapkan bahtera yang akan meluncur ditengah genangan banjir yang ganas[7]“Nuh berkata: “Tuhanku! Sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan mereka telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadaya melainkan kerugian belaka dan mereka melakukan tipu-daya yang amat sangat besar” Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak (manusia); dan janganlah Engkau tumbuhkan bagi orang-orang zalim selain kesesatan. Disebabkan oleh dosa-dosa mereka, mereka ditenggelamkan lalu mereka telah dimasukan (ke) neraka, maka mereka tidak mendapat buat mereka selain Allah penolong (QS Nuh: 21-25). Dari kejadian bencana yang sangat bersar mengindikasaikan bahwa ada suatu ekosistem sang salah yang mana hal ini dikarenakan ekploitasi besar-besaran yang dilakukan pada waktu itu.
 
Apakah kejadian Adam dan Kaum Nuh akan terjadi di zaman sekarang?
 
            Krisis lingkungan dianggap terjadi karena perilaku manusia yang dipengaruhi antroposentrisme. Pola perilaku yang eksploitatif, destruktif dan tidak peduli terhadap alam tersebut dianggap berakar pada cara pandang yang hanya mementingkan kepentingan manusia, sejauh tidak mempunyai dampak yang merugikan kepentingan manusia (dalam arti kepentingan jangka pendek). Ditinjau dari prespektif ajaran Islam. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi,,,, (QS Al-Baqarah: 30). Paradigma antroposentrisme bertentangang dengan tugas manusia sebagai khalifa fil ardhi dimana Allah SWT mengamanahkan tugas kepada manusia sebagai khalifah untuk mengelola atau mengatur bumi. Konsep khalifah bermakna responsibility yakni hanya akan bermakna jika manusia mampu mengelola dan melindungi bumi sehingga seleruh peribadatan dan amal-amal sosialnya dapat dengan tenang ditunaikan
Penerapan teknologi eksploitasi yang kurang memperhatikan kearifan mengakibatkan sumber daya alam non-hayati (air, udara, tanah) dan sumber daya alam hayati (hutan dengan flora dan faunanya) mengalami penurunan kuantotas dan kualitas. Karena itu kualitas sumber daya manusia dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologinya serta kearifan perilakunya diperlukan peningkatan secara terus menerus melalui upaya pendidikan, menurut Aristoteles manusia sempurna adalah manusia yang mencapai pemikiran rasioanal dan bijaksana, untuk mencapai itu dengan cara pendidikan. Ketika manusia masih bersikukuh dengan pandang antroposentrisme tanpa melihat ekosentrisme maupun teosentrisme maka bisa jadi akan terulang seperti kejadian Adam dan Kaum Nuh.
            Arne Naess pada tahun 1973 mengemukakan tentang Deep Ecology, dimana prinsip moral yang dikembangkan adalah menyangkut seluruh komunitas ekologis. Istilah Deep Ecology sendiri digunakan untuk menjelasakan kepedulian manusia terhadap lingkungannya. Kepedulian yang ditunjukan dengan membuat pertanyaan-pertanyaan yang mendalam dan mendasar, ketika dia akan melakukan suatu tindakan. Kesadaran ekologis yang mendalam adalah kesadaran spiritual dan relegius, karena ketika konsep tentang jiwa manusia dimengerti sebagai pola kesadaran dimana individu merasakan suatu rasa memiliki dari rasa keterhubungan kepada kosmos sebagai suatu keseluruhan, maka jelaslah bahwa kesadaran ekologis bersifat spiritual dalam esensinya yang terdalam. Oleh karena itu pandangan baru realitas yang didasarkan pada kesadaran ekologis yang mendalam konsisten dengan apa yang disebut filsafat abadi yang berasal dari dari tradisi-tradisi spiritual. Oleh karena itu semua aspek dari antroposentrismeekosentrisme maupun teosentrisme harus saling berkesinambungan yang mana Muhammadiyah mampu masuk di ranah ini.
 
Muhammadiyah sebagai Penenang alam yang menangis
 

 

            Muhammadiyah sebagai organisasi sekaligus gerakan Islam terbesar dan kompleks dalam rentang satu abad telah mengukur prestasi pembangunan peradaban diberbagai bidang kehidupan. Ki Bagus Hadikusumo menyebut aspek penting dari nilai etika moral Islam bagi Muhammadiyah adalah penegasannya pada implementasi akhlak dalam amal kebajikan (ihsan). Ihsan dalam hubungan antarsesama manusia melahirkan relasi sosial profetik, yaitu hubungan sosial kenabian yang dibangun dan mencerminkan nilai-nilai akhlak muliah diturunkan dan dicontohkan Nabi Muhammad. Sejak awal kenabian spiritualitas ihsan menekankan ihsan individu, tetapi ihsan di era kosmopolitan adalah ihsan “cinta” sesama dan solidaritas kemanusiaan maupun dengan lingkungan. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al-Anbiya: 107). Terlihat jelas bahwa paham teosentrisme sangat menunjang sekali untuk antrhoposentrisme malakukan praktek ekosentrisme.
Achamd Jainuri menandaskan bahwa Muhammadiyah memandang akhlak sebagai nilai dasar fundamental yang harus muncul dalam perilaku sebagai nilai dasar fundamental yang harus muncul dalam perilaku setiap Muslim. Karena itu, ungkapan-ungkapan seperti “sedikit bicara banyak kerja,” “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” “amar ma’ruf nahi munkar,” “fastabiqul khairat,” telah membentuk watak dan perilaku setiap Muhammadiyih. Jadi disini Muhammadiyah harus mempunyai suatu gagasan tentang permasalan Ekologi yang saat ini banyak dieksploitasi oleh para-para kaum elit, korporasi, investor dan lain-lain yang memiliki sifat kapitalisme dan materialisme. Dengan gagasan seperti apa Muhammadiyah akan buat? Maka MULOK (Muhammadiyah Love Ekologi) adalah jawabanya. Mulok adalah kata bahasa Jawa yang artinya memasukan makanan kedalam mulut yang mana dimaksudnya disini memasukan adalah memasukan gagasan Muhammadiyah untuk kepentingan alam, yaitu mengagas yang pertama, tentang memusatkan perhatian kepada seluruh spesies, termasuk spesies bukan manusia dan juga memusatkan pada kepentingan jangka pendak, tetapi jangka panjang. Maka dari prinsip etis moral menyangkut kepentingan komunitas ekologis, kedua, prinsip-prinsip moral etika lingkungan harus diterjemahkan dalam aksi nyata dan kongkrit. Etika baru ini menyangkut suatu gerakan yang jauh lebih dalam dan komperhensif dari sekedar sesuatu yang amat instrumental dan ekspansionis. Gerakan ini merupakan gerakan nyata yang didasarkan pada perubahan paradigma secara revolusioner yaitu perubahan cara pandang, nilai dan perilaku haya hidup.
            Prespektif menekankan pada kepentingan dan kelestarian lingkungan alam. Pandangan ini berdasar etika lingkungan yang kritikal dan mendudukkan lingkungan tidak saja sebagai objek moral, tetapi subjek moral. Sehingga harus diperlakukan sederajat dengan manusia. Pengakuan lingkungan sebagai subjek moral, membawa dampak penegakan prinsip-prinsip keadilan dalam bentuk konteks hubungan antara manusia dan lingkungan sebagai sesama subjek moral.
MULOK akan membawa gerakan perubahan yang radikal terhadap cara pandang manusia terhadap alam sebagai sesuatu yang mempunyai nilai instrinsik yang perlu dihormati dan dijaga oleh manusia sebagai bagian dari alam dalam rangka terselenggaranya kehidupan dalam sesuatu tatanan ekologis. Mewujudkan semua gagasan ini bisa diaplikasikan Muhammadiyah dengan cara memberikan pelajaran tentang alam dari sejak dini di sekolah-sekolah Muhammadiyah dan juga perlu adanya lembaga yang menaungi petani, nelayan dan peternak, karena mereka masyarakat yang sangat dekat sekali pekerjaannya dengan alam, ketika semua aspek Muhammadiyah dapat perperan aktif maka alam tidak akan menangis lagi.

Shared: